Minggu, 09 Oktober 2011

Kebiadapan Salibis Kafirin

Artikel ini ditujukan untuk setiap muslim yang masih memiliki darah mengalir di nadinya

Nadia adalah salah satu korban tentara Amerika di penjara Abu Ghraib. Dia ditangkap tanpa alasan. Ketika dia dibebaskan dari penjara, tidak langsung kembali ke pangkuan keluarganya sebagaimana kebanyakan tahanan lainnya yang telah mengalami hal buruk, meskipun ketika dia telah terbakar oleh api penindasan dan kerinduan pada keluarganya.

Nadia kabur dengan segera setelah dia meninggalkan penjara, bukan karena perasaan malu yang akan diterimanya karena sejumlah kejahatan yang dilakukannya, akan tetapi karena apa yang telah dialami olehnya dan wanita Iraq lain yang tertangkap, yaitu pemerkosaan dan penyiksaan yang dilakukan oleh tentara Amerika di penjara Abu Ghraib. Dinding penjara mengungkapkan banyak cerita tragis, namun apa yang dikisahkan Nadia merupakan kebenaran hidup dan sekaligus neraka hidup.

Nadia memulai ceritanya:

“Aku sedang mengunjungi salah seorang kerabatku, kemudian tiba-tiba tentara Amerika memasuki rumahnya dan mulai menggeledah rumah itu. Mereka menemukan beberapa senjata ringan. Maka merekapun menangkap semua orang yang berada di rumah itu termasuk aku. Aku mencoba menjelaskan pada penerjemah yang menyertai patroli Amerika bahwa aku hanyalah seorang pengunjung. Akan tetapi pembelaanku gagal. Aku kemudian menangis, memohon pada mereka, sampai hilang kesadaran karena takut ketika mereka membawaku ke penjara Abu Ghraib.

Nadia melanjutkan: “mereka menempatkanku sendirian di sebuah sel penjara yang gelap dan kotor. Aku berharap aku akan segera dibebaskan, utamanya setelah penyelidikan terbukti aku tidak melakukan kejahatan”.

Nadia menjelaskan sambil air matanya mengalir ke pipinya, sebuah pertanda betapa banyak dia telah mengalami penderitaan.

“Hari pertama sangat menyusahkan. Selnya berbau tidak sedap, lembab dan gelap, kondisi ini membuatku semakin lama semakin takut. Suara tertawa prajurit di luar sel semakin membuatku ketakutan. Aku khawatir akan apa yang menimpaku nanti. Untuk pertama kalinya aku merasa berada dalam cengkraman situasi yang sulit dan aku telah memasuki sebuah dunia yang tidak dikenal yang aku tidak akan pernah keluar darinya.

Ditengah beraneka ragamnya perasaanku saat itu, aku mendengar suara seorang tentara wanita Amerika berbicara dalam bahasa Arab. Dia berkata kepadaku: “Aku tidak mengira penjual senjata di Iraq adalah wanita.” Ketika aku mulai mencoba menjelaskan kepadanya kondisi yang sebenarnya, dia memukulku dengan kejam. Aku menangis dan berteriak “Demi Allah ! aku dianiaya, demi Allah ! aku dianiya”

Tentara wanita itu menghujaniku dengan cacian dengan cara yang belum pernah aku bayangkan bisa terjadi atau aku akan diperlakukan seperti itu dalam keadaan apapun selamanya. Kemudian dia mulai menertawakanku sambil mengatakan bahwa dia telah memonitorku sepanjang hari dengan satelit, dan bahwa mereka mampu melacak musuh-musuh mereka meskipun sedang berada di dalam kamar tidur mereka sendiri dengan teknologi Amerika.

Kemudian dia tertawa dan berkata,”Aku mengawasimu ketika kamu bercinta dengan suamimu.” Aku menjawab dengan suara kebingungan “Tapi aku belum menikah”.

Dia memukuliku selama lebih dari 1 jam dan dia memaksaku minum segelas air, yang kemudian kuketahui mereka memberi obat di air itu. Aku mendapatkan kembali kesadaranku setelah 2 hari dalam keadaan telanjang. Segera aku tahu jika aku telah kehilangan sesuatu yang hukum apapun di dunia tidak akan mampu mengembalikannya kepadaku lagi. Aku telah diperkosa. Aku kemudian histeris tak terkontrol, dan aku mulai memukulkan kepalaku dengan keras ke tembok sampai lebih dari lima tentara Amerika yang dikepalai tentara wanita itu memasuki sel dan mulai memukuliku, kemudian mereka memperkosaku bergantian sambil tertawa-tawa dan menperdengarkan musik dengan keras.

Hari demi hari skenario pemerkosaan terhadapku diulangi. Dan setiap hari mereka menemukan cara baru yang lebih kejam dibanding dengan yang sebelum-sebelumnya.”

Nadia mulai menjelaskan perbuatan mengerikan dari Amerika bajingan:

“Setelah sekitar satu bulan, seorang tentara negro memasuki selku dan melemparkan 2 potong pakaian militer Amerika kepadaku. Dalam bahasa Arab yang lemah dia mengatakan agar aku memakainya. Setelah dia menutup kepalaku dengan kantong hitam, dia menuntunku ke toilet umum yang ada pipa untuk air dingin dan panas, dan dia memintaku untuk mandi. Kemudian dia menutup pintu dan pergi.

Aku menjadi sangat lelah dan merasakan kesakitan, tanpa mempedulikan banyaknya memar di tubuhku aku menuangkang sejumlah air ke badanku. Sebelum aku selesai mandi, tentara negro tadi masuk ke dalam. Aku ketakutan dan memukul wajahnya dengan mangkok air. Namun dia sangat kuat, dia memperkosaku dengan kejam dan meludahi mukaku, kemudian dia pergi dan kembali lagi dengan 2 tentara yang membawaku kembali ke sel.

Perlakuan seperti itu terus berlanjut, yang paling parah kadang aku diperkosa sampai 10 kali dalam sehari, membuat kesehatanku sangat buruk.”

Nadia berlanjut mengungkapkan perbuatan Amerika yang mengerikan terhadap wanita-wanita Iraq, dia berkata:

“Setelah lebih dari 4 bulan, seorang tentara wanita datang, dan aku menyimpulkan dari percakapannya dengan tentara lainnya jika namanya adalah Mary. Dia berkata kepadaku “sekarang kamu memiliki kesempatan emas, karena seorang petugas yang memiliki posisi tinggi akan mengunjungi kita hari ini. Jika kamu menghadapinya dengan sikap yang positif kamu akan dibebaskan, terutama karena kami sekarang yakin kamu tidak bersalah.”

Aku menjawab,”Jika kalian yakin aku tidak bersalah, mengapa kalian tidak membebaskan aku?”

Dia menjerit dengan gelisah,”Satu-satunya yang menjamin terbebasnya kamu adalah sikap positifmu terhadap mereka.”

Dia membawaku ke toilet umum, dan dia mengawasiku mandi sambil membawa tongkat tebal untuk memukulku jika aku tidak melakukan perintahnya. Kemudian, dia memberiku make up, dan memperigatkanku untuk tidak menangis dan merusak make up ku. Lalu dia membawaku ke sebuah ruangan kosong yang di situ tidak ada apapun kecuali sebuah penutup lantai. Setelah satu jam dia datang dengan ditemani 4 tentara dengan memegang kamera. Dia melepas bajunya dan mulai menggangguku seoalah-olah dia adalah seorang lelaki. Tentara lainnya tertawa dan memperdengarkan musik yang ribut, mengambil photoku dalam berbagai pose, dan mereka menunjuk-nunjuk wajahku. Yang wanita menyuruhku tersenyum, jika tidak dia akan membunuhku. Dia mengambil pistol dari salah satu temannya dan menembakkan empat peluru di dekat kepalaku seraya bersumpah bahwa peluru yang kelima akan ditembakkan tepat di kepalaku.

Setelah itu, keempat tentara lainnya memperkosaku secara bergantian sampai aku kehilangan kesadaranku. Ketika kesadaranku pulih aku menemukan diriku di sel dengan bekas-bekas gigitan, kuku dan rokok ada di sekujur tubuhku.”

Nadia berhenti bercerita tentang tragedi yang menimpanya untuk menyeka air matanya, kemudian dia melanjutkan lagi: “Kemudian suatu hari Mary datang dan mengatakan kepadaku bahwa aku kooperatif dan akan dibebaskan setelah aku menonton film yang mereka rekam. Aku merasa sakit setelah menonton filmnya, dan Mary mengatakan,”Kamu telah diciptakan hanya untuk membuat kami bersenang-senang”. Saat itu aku menjadi sangat marah dan aku menyerangnya meskipun aku takut akan reaksinya, aku akan membunuhnya kalau saja tentara lain tidak turut campur. Ketika para tentara melepaskanku, Mary menghujaniku dengan pukulan, kemudian mereka meninggalkanku.

Setelah kejadian itu, tidak ada seorangpun yang menggangguku selama lebih dari satu bulan. Aku menghabiskan masa itu dengan beribadah dan berdoa pada Allah Ta’ala yang memiliki seluruh kekuatan untuk menolongku.

Mary datang dengan beberapa tentara yang memberiku pakaian yang kukenakan ketika mereka menangkapku dan membawaku ke sebuah mobil Amerika. Kemudian mereka melemparkanku di sebuah jalan raya setelah memberiku 10.000 dinar Iraq.

Aku pergi ke sebuah rumah yang berdekatan dengan tempat aku dibuang, dan untuk mengetahui reaksi keluargaku, aku memilih mengunjungi salah seorang kerabatku supaya mereka mengetahui apa yang telah menimpaku ketika menghilang. Aku mengetahui bahwa saudaraku telah memasang papan tanda duka untukku selama lebih dari 4 bulan, mereka menganggapku sebagai orang yang sudah mati.

Aku memahami jika tikaman malu sudah menungguku. Maka, aku pergi ke Baghdad dan menemukan sebuah keluarga yang baik yang menampungku, dan aku bekerja pada keluarga ini sebagai pembantu dan guru privat bagi anak-anaknya.

Nadia terheran dalam kesakitan, penyesalan dan kemarahan:

“Siapa yang akan memuaskan dahagaku? Siapa yang akan mengembalikan keperawananku? Apa salah keluarga dan familiku? Aku mengandung seorang bayi, bahkan akupun tidak tahu siapa ayahnya.”

Dan Nadia mengakhiri ceritanya sampai di sini.

Apakah Amerika hanya memperkosa Nadia ataukah mereka memperkosa seluruh pria dan wanita di Ummat Islam ? Nadia adalah saya dan anda, istrimu dan juga istriku, saudarimu dan juga saudariku, ibumu serta ibuku. Dimanakah para pembela kesucian Islam! Dimanakah para pembela Islam!

“Mungkin masih banyak kisah menyesakan dada, bagi kita ummat Islam. Mungkin masih ada Nadia-Nadia lain di dalam penjara penuh penjaga babi dan kera berbangsa Amerika. Dimanakah kalian, jikalau kalian tidak tersentuh dengan cerita saudari kita, marahkah kalian dengan perlakuan manusia-manusia yang lebih kotor dari binatang ternajis sekalipun, bahkan mungkin mereka menjadi yang paling hina di Dunia dan Akhirat. Bangunlah wahai ummat!! Tidur kalian sudah terlalu lelap!!”

Sumber: lahaonline.com

Kebiadapan Salibis Kafirin

Artikel ini ditujukan untuk setiap muslim yang masih memiliki darah mengalir di nadinya

Nadia adalah salah satu korban tentara Amerika di penjara Abu Ghraib. Dia ditangkap tanpa alasan. Ketika dia dibebaskan dari penjara, tidak langsung kembali ke pangkuan keluarganya sebagaimana kebanyakan tahanan lainnya yang telah mengalami hal buruk, meskipun ketika dia telah terbakar oleh api penindasan dan kerinduan pada keluarganya.

Nadia kabur dengan segera setelah dia meninggalkan penjara, bukan karena perasaan malu yang akan diterimanya karena sejumlah kejahatan yang dilakukannya, akan tetapi karena apa yang telah dialami olehnya dan wanita Iraq lain yang tertangkap, yaitu pemerkosaan dan penyiksaan yang dilakukan oleh tentara Amerika di penjara Abu Ghraib. Dinding penjara mengungkapkan banyak cerita tragis, namun apa yang dikisahkan Nadia merupakan kebenaran hidup dan sekaligus neraka hidup.

Nadia memulai ceritanya:

“Aku sedang mengunjungi salah seorang kerabatku, kemudian tiba-tiba tentara Amerika memasuki rumahnya dan mulai menggeledah rumah itu. Mereka menemukan beberapa senjata ringan. Maka merekapun menangkap semua orang yang berada di rumah itu termasuk aku. Aku mencoba menjelaskan pada penerjemah yang menyertai patroli Amerika bahwa aku hanyalah seorang pengunjung. Akan tetapi pembelaanku gagal. Aku kemudian menangis, memohon pada mereka, sampai hilang kesadaran karena takut ketika mereka membawaku ke penjara Abu Ghraib.

Nadia melanjutkan: “mereka menempatkanku sendirian di sebuah sel penjara yang gelap dan kotor. Aku berharap aku akan segera dibebaskan, utamanya setelah penyelidikan terbukti aku tidak melakukan kejahatan”.

Nadia menjelaskan sambil air matanya mengalir ke pipinya, sebuah pertanda betapa banyak dia telah mengalami penderitaan.

“Hari pertama sangat menyusahkan. Selnya berbau tidak sedap, lembab dan gelap, kondisi ini membuatku semakin lama semakin takut. Suara tertawa prajurit di luar sel semakin membuatku ketakutan. Aku khawatir akan apa yang menimpaku nanti. Untuk pertama kalinya aku merasa berada dalam cengkraman situasi yang sulit dan aku telah memasuki sebuah dunia yang tidak dikenal yang aku tidak akan pernah keluar darinya.

Ditengah beraneka ragamnya perasaanku saat itu, aku mendengar suara seorang tentara wanita Amerika berbicara dalam bahasa Arab. Dia berkata kepadaku: “Aku tidak mengira penjual senjata di Iraq adalah wanita.” Ketika aku mulai mencoba menjelaskan kepadanya kondisi yang sebenarnya, dia memukulku dengan kejam. Aku menangis dan berteriak “Demi Allah ! aku dianiaya, demi Allah ! aku dianiya”

Tentara wanita itu menghujaniku dengan cacian dengan cara yang belum pernah aku bayangkan bisa terjadi atau aku akan diperlakukan seperti itu dalam keadaan apapun selamanya. Kemudian dia mulai menertawakanku sambil mengatakan bahwa dia telah memonitorku sepanjang hari dengan satelit, dan bahwa mereka mampu melacak musuh-musuh mereka meskipun sedang berada di dalam kamar tidur mereka sendiri dengan teknologi Amerika.

Kemudian dia tertawa dan berkata,”Aku mengawasimu ketika kamu bercinta dengan suamimu.” Aku menjawab dengan suara kebingungan “Tapi aku belum menikah”.

Dia memukuliku selama lebih dari 1 jam dan dia memaksaku minum segelas air, yang kemudian kuketahui mereka memberi obat di air itu. Aku mendapatkan kembali kesadaranku setelah 2 hari dalam keadaan telanjang. Segera aku tahu jika aku telah kehilangan sesuatu yang hukum apapun di dunia tidak akan mampu mengembalikannya kepadaku lagi. Aku telah diperkosa. Aku kemudian histeris tak terkontrol, dan aku mulai memukulkan kepalaku dengan keras ke tembok sampai lebih dari lima tentara Amerika yang dikepalai tentara wanita itu memasuki sel dan mulai memukuliku, kemudian mereka memperkosaku bergantian sambil tertawa-tawa dan menperdengarkan musik dengan keras.

Hari demi hari skenario pemerkosaan terhadapku diulangi. Dan setiap hari mereka menemukan cara baru yang lebih kejam dibanding dengan yang sebelum-sebelumnya.”

Nadia mulai menjelaskan perbuatan mengerikan dari Amerika bajingan:

“Setelah sekitar satu bulan, seorang tentara negro memasuki selku dan melemparkan 2 potong pakaian militer Amerika kepadaku. Dalam bahasa Arab yang lemah dia mengatakan agar aku memakainya. Setelah dia menutup kepalaku dengan kantong hitam, dia menuntunku ke toilet umum yang ada pipa untuk air dingin dan panas, dan dia memintaku untuk mandi. Kemudian dia menutup pintu dan pergi.

Aku menjadi sangat lelah dan merasakan kesakitan, tanpa mempedulikan banyaknya memar di tubuhku aku menuangkang sejumlah air ke badanku. Sebelum aku selesai mandi, tentara negro tadi masuk ke dalam. Aku ketakutan dan memukul wajahnya dengan mangkok air. Namun dia sangat kuat, dia memperkosaku dengan kejam dan meludahi mukaku, kemudian dia pergi dan kembali lagi dengan 2 tentara yang membawaku kembali ke sel.

Perlakuan seperti itu terus berlanjut, yang paling parah kadang aku diperkosa sampai 10 kali dalam sehari, membuat kesehatanku sangat buruk.”

Nadia berlanjut mengungkapkan perbuatan Amerika yang mengerikan terhadap wanita-wanita Iraq, dia berkata:

“Setelah lebih dari 4 bulan, seorang tentara wanita datang, dan aku menyimpulkan dari percakapannya dengan tentara lainnya jika namanya adalah Mary. Dia berkata kepadaku “sekarang kamu memiliki kesempatan emas, karena seorang petugas yang memiliki posisi tinggi akan mengunjungi kita hari ini. Jika kamu menghadapinya dengan sikap yang positif kamu akan dibebaskan, terutama karena kami sekarang yakin kamu tidak bersalah.”

Aku menjawab,”Jika kalian yakin aku tidak bersalah, mengapa kalian tidak membebaskan aku?”

Dia menjerit dengan gelisah,”Satu-satunya yang menjamin terbebasnya kamu adalah sikap positifmu terhadap mereka.”

Dia membawaku ke toilet umum, dan dia mengawasiku mandi sambil membawa tongkat tebal untuk memukulku jika aku tidak melakukan perintahnya. Kemudian, dia memberiku make up, dan memperigatkanku untuk tidak menangis dan merusak make up ku. Lalu dia membawaku ke sebuah ruangan kosong yang di situ tidak ada apapun kecuali sebuah penutup lantai. Setelah satu jam dia datang dengan ditemani 4 tentara dengan memegang kamera. Dia melepas bajunya dan mulai menggangguku seoalah-olah dia adalah seorang lelaki. Tentara lainnya tertawa dan memperdengarkan musik yang ribut, mengambil photoku dalam berbagai pose, dan mereka menunjuk-nunjuk wajahku. Yang wanita menyuruhku tersenyum, jika tidak dia akan membunuhku. Dia mengambil pistol dari salah satu temannya dan menembakkan empat peluru di dekat kepalaku seraya bersumpah bahwa peluru yang kelima akan ditembakkan tepat di kepalaku.

Setelah itu, keempat tentara lainnya memperkosaku secara bergantian sampai aku kehilangan kesadaranku. Ketika kesadaranku pulih aku menemukan diriku di sel dengan bekas-bekas gigitan, kuku dan rokok ada di sekujur tubuhku.”

Nadia berhenti bercerita tentang tragedi yang menimpanya untuk menyeka air matanya, kemudian dia melanjutkan lagi: “Kemudian suatu hari Mary datang dan mengatakan kepadaku bahwa aku kooperatif dan akan dibebaskan setelah aku menonton film yang mereka rekam. Aku merasa sakit setelah menonton filmnya, dan Mary mengatakan,”Kamu telah diciptakan hanya untuk membuat kami bersenang-senang”. Saat itu aku menjadi sangat marah dan aku menyerangnya meskipun aku takut akan reaksinya, aku akan membunuhnya kalau saja tentara lain tidak turut campur. Ketika para tentara melepaskanku, Mary menghujaniku dengan pukulan, kemudian mereka meninggalkanku.

Setelah kejadian itu, tidak ada seorangpun yang menggangguku selama lebih dari satu bulan. Aku menghabiskan masa itu dengan beribadah dan berdoa pada Allah Ta’ala yang memiliki seluruh kekuatan untuk menolongku.

Mary datang dengan beberapa tentara yang memberiku pakaian yang kukenakan ketika mereka menangkapku dan membawaku ke sebuah mobil Amerika. Kemudian mereka melemparkanku di sebuah jalan raya setelah memberiku 10.000 dinar Iraq.

Aku pergi ke sebuah rumah yang berdekatan dengan tempat aku dibuang, dan untuk mengetahui reaksi keluargaku, aku memilih mengunjungi salah seorang kerabatku supaya mereka mengetahui apa yang telah menimpaku ketika menghilang. Aku mengetahui bahwa saudaraku telah memasang papan tanda duka untukku selama lebih dari 4 bulan, mereka menganggapku sebagai orang yang sudah mati.

Aku memahami jika tikaman malu sudah menungguku. Maka, aku pergi ke Baghdad dan menemukan sebuah keluarga yang baik yang menampungku, dan aku bekerja pada keluarga ini sebagai pembantu dan guru privat bagi anak-anaknya.

Nadia terheran dalam kesakitan, penyesalan dan kemarahan:

“Siapa yang akan memuaskan dahagaku? Siapa yang akan mengembalikan keperawananku? Apa salah keluarga dan familiku? Aku mengandung seorang bayi, bahkan akupun tidak tahu siapa ayahnya.”

Dan Nadia mengakhiri ceritanya sampai di sini.

Apakah Amerika hanya memperkosa Nadia ataukah mereka memperkosa seluruh pria dan wanita di Ummat Islam ? Nadia adalah saya dan anda, istrimu dan juga istriku, saudarimu dan juga saudariku, ibumu serta ibuku. Dimanakah para pembela kesucian Islam! Dimanakah para pembela Islam!

“Mungkin masih banyak kisah menyesakan dada, bagi kita ummat Islam. Mungkin masih ada Nadia-Nadia lain di dalam penjara penuh penjaga babi dan kera berbangsa Amerika. Dimanakah kalian, jikalau kalian tidak tersentuh dengan cerita saudari kita, marahkah kalian dengan perlakuan manusia-manusia yang lebih kotor dari binatang ternajis sekalipun, bahkan mungkin mereka menjadi yang paling hina di Dunia dan Akhirat. Bangunlah wahai ummat!! Tidur kalian sudah terlalu lelap!!”

Sumber: lahaonline.com

wasiat

Wasiat Ukhti Pertama

Bismillahirrohmanirrohiim

Segala puji bagi Allah, Robb semesta ‘alam. Sholawat dan salam terlimpah pada Nabi Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

Assalamu’alaykum warohmatullahi wabarokatuh

Saudara saudariku.

Insya Allah saya ingin menyampaikan pesan ini kepada saudara saudariku yg berjuang di jalan Allah yang ingin berguna bagi Diin Allah, Demi Allah.

Allah berfirman dalam Al-Quran :

“Sungguh Allah telah membeli dari orang-orang mu’min diri dan harta mereka dengan surga, mereka berperang di jalan Allah lalu mereka membunuh atau terbunuh itu adalah janji yang haq dari Allah dalam Taurat, Injil dan Al quran, lalu siapakah yang lebih menepati janjinya selain dari pada Allah?” (QS At Tawbah : 111)

Saudara saudariku tercinta, saya telah membuat perjanjian dengan Allah, bahwa saya akan menukar jiwa saya untuk mendapatkan surga. Telah datang waktunya bagiku untuk menyempurnakan jual beliku.

Insya Allah, saya akan melaksanakan operasi mencari syahadah di jalan Allah. Insya Allah, operasi mencari syahadah ini, semata-mata karena Allah, karena Diin Allah, dan untuk menegakkan kalimat Allah di muka bumi ini.

Saudari-saudariku, aku menyerumu untuk membuka mata dan melihat kebenaran, Insya Allah.

Saya katakan pada kalian, demi Allah, semua yg kalian lakukan, jalan yg biasanya kalian gunakan menghabiskan waktu dan juga usaha kalian, semua itu tak akan bermanfaat bagi Diin Allah. Jika kalian benar-benar ingin menolong Diin Allah, kalian harus masuk dalam akad jual beli dengan Allah sebagaimana pada masa Nabi (Sholawat dan salam atasnya) pada jalan yang telah ditempuh oleh sebagian saudari kita sebelumnya, insya Allah. Inilah yang telah dilakukan oleh saudari kita Hawa Barayev, semoga Allah menyayanginya.

Saya bersumpah demi Allah, ini adalah baik bagi kalian, dimana Allah telah memerintah kita berperang di jalan-Nya. Sungguh satu hal yang kita minta dari Allah adalah agar Dia ridho terhadap kita, agar Allah menerima semua amalan kita dan meridhoi amal kita.

Saudari-saudariku, maha suci Allah, jamaah kita menghadapi berbagai ujian dan cobaan, Saya berlindung pada Allah dari syaitan yang terkutuk. Berlindunglah pada Allah dari ini, jika kalian benar-benar ingin menolong Allah dan Diin Allah, wahai saudariku, saya mengajak kalian untuk istisyhad (mencari syahid) di jalan Allah.

Saudari-saudariku, maha suci Allah, sekarang ini Allah telah memberikan kesempatan pada kita untuk menjual jiwa-jiwa kita dengan bayaran surga, lalu bagaimana bisa kalian itu menjauh dari surga, setelah pintu-pintunya di buka – Allahu Akbar- Sedang Allah berkata : “kemarilah wahai hambaku, kemarilah wahai hambaku.”

Tetapi, tampaknya kita masih suka kehidupan yang terbatas ini. Dengan mengatakan “kita masih dibutuhkan disini.”

Saudari-saudariku, mengapa kalian mengenakan hijab? Kapan kalian akan menghabiskan waktu dengan saudari lainnya? Obrolan kosong dan gossip, ini semua musuh kedua setelah syaitan, kita berlindung pada Allah dari itu semua. Hal itu akan membawa banyak mudhorot bagi jihad di jalan Allah. Dari pada obrolan kosong ini, lebih baik kalian mempersembahkan jiwa-jiwa kalian di jalan Allah. Demi Allah, saya mengenal banyak akhwat dan saya mencintai mereka, saya tahu mereka ingin membela Diin Allah, tetapi ketahuilah wahai saudari-saudariku tercinta, demi Allah, tidak ada pembelaan terbesar dan terbaik dari itu (yaitu) yang datang dari istisyhadiyah di jalan Allah.

Kita meneror kuffar yang telah menjajah negeri kita, serta mengaplikasikan undang-undang mereka. Maha suci Allah..! bagaimana kalian bisa hidup damai saudariku, disaat orang kafir memasukkan undang-undang buatan ini..?? Disaat orang kafir mengangkat senjata melawan Pencipta kita?

Maha suci Allah..! bangkitlah dan jual jiwa kalian! dan bagi saudara2ku yang duduk di rumah, yang menyerah pada kenyataan bahwa kita dikuasai orang kafir : Takutlah pada Allah! Pada hari kiamat kalian akan bertanggung jawab di hadapan Allah, karena kalian duduk-duduk di rumah kalian yang hangat, karena realitanya kalian duduk-duduk tatkala saudari kalian menjual jiwa-jiwa mereka, tatkala para akhwat tidak bakhil dengan darah-darah mereka atau nyawa-nyawa mereka di jalan Allah. demi Diin Allah, apakah ada sesuatu yang lebih mahal dari jiwa?

Saya bersumpah, demi Allah saya tak punya apa-apa kecuali nyawa, tak punya uang atau barang untuk diberikan pada Allah. Demi Allah, jika saya punya sesuatu yang lain untuk diberikan pasti saya akan memberikannya juga. Saya hanya punya satu nyawa dan saya sudah memutuskan untuk mempersembahkannya pada Allah. Jika saya punya sepuluh nyawa, maka saya akan mempersembahkan semuanya.!

Saya menyampaikan pada keluargaku. Insya Allah, sebentar lagi kalian akan mendengar kalau saya (ini) akan dicela. Beberapa orang dengan keras mengatakan dia ‘teroris, seorang ‘pembom bunuh diri’.

Benar..! saya terroris..! memangnya kenapa kalau saya terroris? Saya seorang terroris karena ‘teror’ artinya memberi takut, jadi sudah tentu saya terroris, karena saya ingin membuat takut orang kafir, merekalah yang telah mengangkat senjata melawan kami!

Kalian menyebutku ‘pembom’ dan saya bilang benar: saya adalah pembom.! Kenapa? Karena saya memilih kematian, ketika kalian memilih kehidupan yang penuh godaan dan fitnah. Kehidupan yang penuh dengan fitnah. Ini adalah kehidupan terkutuk. Saya pilih kematian, karena mati di jalan Allah yang Maha suci lagi Tinggi adalah kehidupan bagiku. Jadi saya katakan dengan bangga: saya adalah terroris, dan saya adalah seorang pembom.

Tapi saya harus berkata pada kalian : jalan yang kalian pilih untuk menghabiskan waktu dan uang kalian, demi Allah, kalian akan bertanggung jawab di hadapan Allah untuk itu. Jadi jangan mengutukku, walaupun itu tak akan membuatku takut jika kalian mengkritik saya. Semua hal yang penting bagi saya adalah mendapatkan ridho Allah. Saya yakin kalau saya berada di jalan yang lurus karena, segala puji bagi Allah, Allah telah mengajariku, Jadi saya memotivasi kalian untuk bangkit dan melihat bahwa kalian tak mungkin terus hidup di bawah aturan kuffar. Kalian telah menyaksikan cara yang digunakan kuffar untuk mengedarkan narkotik hingga pada kalangan anak-anak. Tapi selama kalian tak terkena dampak langsung, kalian akan berdiri dan tersenyum lalu berkata: “ini bukan urusanku”. Hal ini hanya bila kalian dirugikan secara langsung, tiba-tiba saja kalian mengatakan: “Orang ini adalah musuh kita dan kuffar harus dibunuh!” Maha suci Allah, ini tidaklah benar.

Nabi Muhammad (sholawat dan salam atasnya) bersabda: “Ummat ini bagaikan satu tubuh. Jika satu bagian dari tubuh kesakitan, maka yang lainnya merespon dengan begadang dan demam.” Jadi mengapa kalian tidak merasakan kesakitan ini, jika kalian menyebut diri kalian adalah muslim?? Jadi mengapa kalian tidak merasakan kesakitan ketika mereka memenjarakan saudara saudari kalian, ketika mereka disiksa dan diperkosa? Jika kalian menganggap diri kalian sebagai Ummat Muhammad (sholawat dan salam atasnya) mengapa kalian tak merasakan kepedihan ini, mengapa kalian duduk tenang di rumah. Mengapa kalian mengutuk orang-orang yang secara sukarela mempersembahkan jiwa mereka kepada Allah, yaitu mereka yang mempersembahkan segalanya yang mungkin dalam hidup ini? Kehidupan yang sementara ini terkutuk –kita berlindung pada Allah dari ini–. Bagaimana kalian bisa menikmati kehidupan sementara ini ?

Saudari-saudariku tercinta: –Maha suci Allah– saya melihat kebanyakan dari akhwat membeli jilbab untuk dirinya seharga 7000, 9000 rubles, ada juga yang membeli bros dan pernak pernik lainnya senilah 300 atau 400 rubles. Maha suci Allah! bukannkah lebih baik ia infaqkan uangnya di jalan Allah untuk membantu mujahidin di jalan Allah??? dan pahalanya akan diberikan di akhirat, maka takutlah pada Allah, saudari-saudariku..! Takutlah pada Allah, yang mana kalian akan berdiri di hadapan-Nya besok!

(nilai tukar rubels terhadap rupiah pada 15 april 2009 adalah 1 rubels = 332.9 rupiah, biaya hidup di rusia lebih tinggi dibanding di indonesia)

Saya tak melihat suatu cara yang lebih ampuh daripada mempersembahkan jiwaku ini kepada Allah. Sebagian mungkin akan menyebut saya zombi tanpa pertimbangan (gila). Kerabat saya akan berkata: ‘Jika dia menempuh jalan ini, tidak ada cara bagi kita untuk menyadarkannya”.Maha suci Allah, tentu saja!

Allah berfirman :

“Siapa yang ditunjuki Allah, maka tak akan ada yang bisa menyesatkannya.” (az-zumar : 38)

Bukankah dalil ini sudah cukup? Beberapa akan mengatakan saya melakukan ini demi uang, atau karena saya telah kehilangan suami saya. Tapi bukankah sudah sepantasnya bagi saya menjadi orang yang mengharap ridho Allah? Pikirkanlah hal ini.

Maha suci Allah, kebenaran itu lebih baik, al Haq adalah hujjah terbaik. Nabi Muhammad (sholawat dan salam atasnya) ditanya: apakah yang membuat Rabb tertawa? Apakah kalian ingin tahu apa yang membuat Allah tertawa? Maka para sahabat menjawab: ya wahai Rasulullah! Mereka adalah yang menyerbu ke tengah musuh dan bertempur sampai terbunuh. Barangsiapa yang Allah tertawa padanya, tidak akan tersentuh api Neraka. Alangkah beruntungnya mereka itu”.

Lihatlah dan renungkan : Nabi kita tidak berkata tentang orang yang bersegera menyongsong musuh, berperang lalu kembali pulang. Tetapi yang Beliau katakan adalah berperang hingga terbunuh.

Saya gembira sekali, karena Allah telah melimpahkan kesempatan untuk menjual jiwaku kepada-Nya, insya Allah. Ini bukanlah kesempatan yang didapat setiap orang. Saya merasa bersyukur, Alhamdulillah. Dan saya sampaikan pada kalian wahai saudariku tercinta : jangan malu untuk mempersembahkan jiwa kalian kepada Allah. Jangan enggan ataupun menyesal. Pasar-pasar surga tengah dibuka. Tetapi bisa jadi esok hari pasar tersebut tertutup sudah dan kalian tidak punya kesempatan lagi untuk menjual jiwa. Bersegeralah menuju surga, yang luasnya membentang melebihi langit dan bumi! Bersegeralah menuju surga, wahai saudariku! Wahai saudaraku : cukup sudah duduk-duduk di rumah. Inilah saatnya kalian harus bangkit berubah.

Semoga Allah membuka hati kalian. Semoga Allah melimpahkan kalian petunjuk ke Jalan yang benar, membuka hati kalian untuk menunaikan kewajiban jihad, dan menjadikan kalian lebih berguna dari keadaan kalian saat ini.

Biidznillah, kemenangan bersama kita, menang atau surga. Jika tidak kemenangan di dunia ini maka ada surga, insya Allah.

Allahu akbar..! Allahu Akbar..! Allahu Akbar..!

Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh…

=====================================================================

Wasiat Ukhti Kedua

Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh untuk kalian wahai saudari-saudariku.

Sahabatku, beberapa (orang) mungkin mengatakan jalan yang aku pilih ini adalah (pilihan) sulit dan berat, tapi ini sangat berharga dimata Alloh.

Demi Alloh ini sangat berharga!

Terkadang kita harus membayar harga ini untuk memutuskan jalan ini sebagai jalan hidup kita dan kemudian kita jual kepada Alloh dan ditukarkan dengan surga.

Ada orang yang menjual hidupnya pada Alloh SWT. Sesuai yang terdapat dalam Al Qur’an:

Ada sekumpulan orang yang menjual hidupnya pada Alloh untuk memperoleh ampunan-Nya. Ini berarti, Alloh akan menampakkan ampunan-Nya pada siapa saja yang menjual dirinya di jalan Alloh.

Kita berjihad untuk mendapatkan surga dan nikmat Alloh, serta untuk mendapatkan rahmat-Nya.

Hari ini Alloh telah memberikan kesempatan dan mungkin jika kita melewatkan kesempatan ini, Alloh tidak akan memberikan kesempatan (lagi) yang lain. Kita tidak akan pernah mencapai ketinggian iman seperti yang kita dapat hari ini. Kami memutuskan untuk menjual jiwa kami kepada Alloh dengan tujuan mendapat rido Alloh, juga untuk meneror musuh-musuh Alloh yang menghinakan kaum muslimin hari ini dan berkeinginan untuk menghancurkan kaum muslimin.

Saudariku, musuh kita, orang-orang kafir, bisa menghancurkan hanya jika Alloh berkehendak, mereka tidak akan bisa melakukan apapun tanpa izin dari Alloh SWT.

Kekuatan kita berasal dari persatuan, tapi jika kita tidak bersatu, jika setiap muslim terpecah belah, maka musuh akan menghancurkan kita dengan cepat (mudah).

Kalian mengatakan kalian beramal di jalan Alloh dan anda melakukan suatu amal yang baik, dan anda diberikan kekuatan di jalan ini, tapi mengapa kita melakukan hal ini?

Kami berjihad dan mengerahkan semua tenaga untuk mendapakan ampunan dari Alloh, untuk meraih surga dan untuk mendapatkan jawaban di yaumul hisab ketika ditanya apa yang kita lakukan di jalan-Nya.

Aku bahagia atas siapa saja yang beramal di jalan Alloh, tapi ukhti, aku ingin mengatakan kalau terkadang perkataan kalian menyebabkan rusaknya jihad fii sabilillaah. Jika anda tidak berhati-hati, setiap amal baik anda akan tidak berarti jika dibanding dengan kerusakan yang kalian timbulkan.

(Ini) terjadi kepada sebagian akhwat ketika aku lemah, lemah dalam iman, dan seperti yang kita ketahui keimanan kita bisa naik dan bisa turun. Dan diwaktu itu, ketika aku lemah, mereka mulai membicarakan yang menyebabkan perpecahan, dan meremehkan salah seorang akhwat lain yang akhirnya ternyata jauh lebih baik daripada mereka.

Dan alhamdulillah (segala puji bagi Alloh), setan datang kepada kita serta mencoba melemahkan (iman) kita, sedangkan sebagian kita menyerang satu yang lainnya kecuali orang-orang yang ikhlash. Dan alhamdulillah (segala puji bagi Alloh), kami dipertemukan diantara orang yang ikhlas, meskipun ada perselisihan dan perbedaan diantara akhwat yang lain dan aku.

Alhamdulillah (segala puji bagi Alloh), itu semua masa lalu, kami telah disesuaikan dalam satu tujuan dan saling memaafkan.

Saudari-saudariku, ini adalah urusan yang sangat serius, pikirkan sampai anda mendapat jawaban untuk Alloh!! Jika anda berjihad di jalan Alloh dan menginginkan surga, maka lakukanlah operasi mencari syahid (amaliyah istisyhadiyah), jual jiwa anda pada Alloh.

Apa yang lebih baik dari ini? Pikirkan dengan seksama. Dan juga sebagian kalian telah mempublikasikan beberapa puisi dan saling menyalahkan satu sam lain.

Bait-bait tersebut tidak membawa apapun tetapi membahayakan Agama Alloh. Jika ada masalah disebabkan salah seorang diantara kalian, jika ada masalah, selesaikanlah sendiri. Apakah perpecahan diantara kalian tidak cukup, (sehingga) apakah harus di ekspos ke publik?

Subhanalloh (Maha suci Alloh), semoga Alloh mengampuni kita karena perpecahan ini. Dan kau tidak ingin, atau aku tidak akan berbicara dengan panjang lebar. Aku tidak menginginkan semua ini. Tapi aku akan memutuskan untuk membuat ini sebagai seruan di jalan Alloh di akhir hayatku.

Wassalamu’alaikum.